Showing posts with label layer. Show all posts
Showing posts with label layer. Show all posts

Thursday, April 15, 2010

Perkembangan Harga Telur Terkini

Kondisi mulai berubah, populasi lokal semakin pesat perkembangannya, hal ini menjadikan harga telur lokal cenderung mendekati harga Blitar, hanya saat-saat tertentu hukum harga telur plus transport sampai tempat berlaku, tapi naik atau turun harga tetap mengikuti perkembangan fluktuasi harga di Blitar dan seberapa besar selisih harga tergantung pada kondisi pasar daerah masing-masing. Hal ini terlihat dari release sms info harga telur di beberapa kota jika di banding dengan harga telur di Blitar.

Bagi member sms info centralunggas, memantau perkembangan harga di kota-kota yang sudah tercover layanan sms info tentu bukan hal yang sulit, karena member setiap hari mendapatkan sms info harga Blitar yang selalu di update setiap ada perkembangan harga dan dapat mengakses info harga kota-kota lain seperti Solo, Jogja, Semarang, Sukorejo, Tegal, Purwokerto dan Bumiayu. Mencermati perkembangan harga dalam kurun waktu sebulan terakhir selisih harga yang terjadi antara harga telur di Blitar dan harga lokal (kota yang tercover layanan sms info) rata-rata Rp. 100 – Rp. 200 per kg. selisih harga terjauh terjadi pada minggu pertama bulan April antara harga Blitar dan harga di Semarang dan sekitarnya, menurut pelaku pasar di area tersebut permintaan telur di daerah pantura meningkat dan supply yang menurun akibat produksi yang sedang bermasalah di salah satu daerah di pantura, efek domino dari hal tersebut harga di telur di sepanjang pantura naik bahkan berdasarkan info yang saya terima, pada minggu tersebut barang sudah habis (dipesan) sampai awal minggu berikutnya.

Tingginya permintaan di Pantura, tidak serta merta berpengaruh terhadap dinamika pasar di Jalur Selatan, meski harga juga terdongkrak naik namun dari pengakuan pedagang dan peternak di Solo dan Jogja permintaan pasar stabil bahkan ada yang mengatakan sepi. Lain halnya di Purwokerto, meski menjadi lintas jalur selatan namun karena banyak barang yang tersedot ke daerah pantura (Tegal) harga telur on farm ikut terkerek naik sampai Rp. 11.400.

Mulai minggu ke 3 di bulan April 2010 harga telur di hampir semua daerah berangsur-angsur melemah seiring dengan menurunnya permintaan di pasar. Prediksinya, trend harga telur sampai akhir minggu ke 3 masih negatif dan mudah-mudahan tidak setajam awal tahun ini setidaknya harga tidak sampai dibawah Rp. 10.000. Pasar Jateng Jogja mungkin akan lebih dinamis dalam arti naik atau turunnya permintaan yang dicerminkan oleh harga di bandingkan daerah timur (Blitar). Pantau terus perkembangan harga telur di area anda, crosscheck dengan harga kota lain yang memungkinkan mempengaruhi harga di area anda.




CENTRAL UNGGAS FARM
CENTRAL INFORMASI HARGA TELUR YANG PROFESIONAL, INDEPENDEN DAN TERPERCAYA
Bergabunglah sekarang juga untuk memaksimalkan keuntungan usaha anda

Saturday, January 17, 2009

Sebuah tantangan........“Tidak besar” tapi BERAT

“Harga berapa pak?, telurnya kecil2 ndak? “ sms itu saya terima pagi, sesaat setelah mandi pagi. Pertanyaan tersebut mungkin sering kita dengar baik sebagai peternak maupun pedagang. Bagi pedagang, hal berikutnya adalah meyakinkan prospek pembeli bahwa dia punya atau bisa mendapatkan barang yang dimaksud meski harus belanja dengan harga lebih tinggi. Bagi peternak, saya melihat ini sebuah tantangan ………..bagaimana memproduksi telur yang “tidak besar” namun berat, karena di pasaran telur yang size kecil lebih mudah di pasarkan dan harganya lebih mahal.

Salah satu indikator produksi telur dapat dilihat dari henday dan berat telur. Dua hal tersebut dipengaruhi oleh umur ternak, semakin tua henday semakin jauh dari 100% dan telur semakin berat. Selain faktor umur, produksi telur juga sangat dipengaruhi oleh pakan yang diberikan, seperti kita tahu produksi telur pada layer bukan sebuah akibat dari perbuatan pejantan…..ha..ha… melainkan dari pakan yang di cerna oleh layer.

Umur ternak tidak diganggu gugat, jadi hal yang bisa dilakukan adalah memberikan pakan yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Bagaimana caranya??? seperti judul diatas, ini adalah sebuah tantangan.... disini saya mengajak peternak dan semua pelaku industri perunggasan khususnya layer untuk berbagi pengalaman sehingga suatu saat, entah kapan.... tantangan itu akan terjawab.

Mencoba Probiotik pada Layer




Seperti minggu-minggu biasanya, hari selasa bisa jadi hari TS (technical service), dinamakan demikian karena pada hari ini banyak TS obat maupun pakan mampir ke kandang kami. Seperti biasa obrolan santai pun berjalan, dan ada topik yang jadi perhatian saya yaitu “probiotik”. Setelah tanya sana sini, termasuk mbah Google, bolak balik buku dan karena khawatir lupa akhirnya saya tulis dech…… dan hasilnya seperti yang panjenengan baca ini.



Apa itu probiotik? Probiotik merupakan produk yang mengandung mikroorganisme hidup nonpatogen yang berpengaruh positif terhadap pertumbuhan, efisiensi ransum, kecernaan bahan pakan dan kesehatan ternak. Cara kerja probiotik pada intinya menjaga keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan. Apalagi setelah kita menggunakan antibiotik baik untuk cleaning pencernaan atau lainny dengan meminumkanny pada ternak.



Dari pengalaman menggunakan probiotik (gratisan he…he…. ) “Super Bio Decomposer” dengan maksud untuk menghilangkan bau dalam kandang, (bahkan diluar kandang) ternyata hasilnya cukup memuaskan. Pengalaman menggunakan probiotik untuk ternak ayam dengan memberikannya lewat air minum, hasilny cukup bagus … (blm mak nyusss....) dengan aplikasi 1 minggu treatment 1 minggu libur begitu seterusny….. hasilnya ternak “layer” lebih tahan terhadap penyakit ( sedikit hiperbolis..) jika ada kasus masa recoveryny lebih cepat daripada yang tidak kita treatment… (yang ini beneran…. ) produksi bagusan dikittt di berat telur sama HD…. Tapi tentunny hasil di setiap farm berbeda…. Oh ya probiotik yang kita pakai yaitu aviprob dan OGC (maaf lho… mbak, mas, pak atau bu…..).



Mengutip berbagai hasil penelitian, efek probiotik pada ternak secara garis besar adalah :

1) Meningkatkan laju pertumbuhan ternak potong, ayam dan babi (Fuller, 1992).

2) Meningkatkan produksi telur baik jumlah maupun berat telurnya (Fuller, 1992),

3) Meningkatkan kesehatan ternak (Fuller, 1992).

4) Memperbaiki konversi pakan pada ayam yang diberi Enterococcus faecium (Kumprent, dkk. 1984).



Total Pageviews

Pages